Gudeg Jogja, Sejarah Dan 6 Tempat Rekomendasi Untuk Menikmatinya

gudeg jogja
foto: Nyonya Melly Shop

Gudeg Jogja merupakan makanan khas asli dari Yogyakarta yang sudah sangat terkenal di seluruh Indonesia. Apalagi setelah perkembangan dunia pariwisata Jogja yang semakin populer, Gudeg menjadi makanan yang paling dicari oleh wisatawan.

Sebenarnya, dulu masyarakat Jogja makan nasi gudeg hanya untuk sarapan saja, karena gudeg hanya dijual pada pagi hari.
Seiring berjalannya waktu dan perkembangan wisata Jogja, membuat banyak pengunjung yang jalan jalan di Malioboro pada malam hari. Hal ini memberikan peluang kepada pengusaha kuliner untuk membuka warung lesehan di emperan toko toko di Malioboro. Dan salah satu menu unggulannya adalah makanan tradisional khas Jogja tersebut.
Gudeg, memang sangat menarik untuk ditelisik, mulai dari resep, proses memasak, bahkan bahan bakar untuk pengapian ketika memasak.
Ada sebagian beranggapan bahwa memasak gudeg harus konvensional dan menggunakan cara tradisional pula. Bahan bakar untuk pengapian harus menggunakan kayu, agar aroma yang keluar sangat khas. 
Bahkan ada yang fanatik, kuali untuk memasak harus menggunakan kuali dari tanah liat agar rasa asli gudeg tempo dulu tidak berubah.
Oleh sebab itu, dari kuali tanah liat ini muncullah istilah gudeg kendil, yang istilah tersebut kini melekat pada gudegnya Yu Djum.
Selain proses memasak, hal yang lebih menarik lainnya dilihat dari sisi sejarah. Karena terciptanya Gudeg masih ada hubungan erat dengan Kerajaan Mataram.

Sejarah Gudeg Jogja Dan Pemberian Nama “Gudheg”

Gudeg Jogja sudah menjadi ciri dan sangat penting peranannya untuk Kota Yogyakarta, karena makanan khas Jogja ini turut berjasa dalam pembangunan Kerajaan Mataram.
Menurut Murdijanti Gardjito dalam bukunya yang di beri judul “Gudeg Yogyakarta”, bahwa Gudeg tercipta sekitar Tahun 1500. Waktu itu bersamaan dengan pembangunan Kerajaan Mataram Islam di alas Bumi Mentaok, yang wilayahnya meliputi Purwomartani-Sleman hingga Banguntapan-Bantul.
Namun, tempat untuk mendirikan Bangungan Kerajaan harus di tempat yang landai, maka dipilihlah suatu tempat yang sekarang ini dikenal dengan nama “Kota Gedhe” untuk dijadikan pusat pemerintahan pada waktu itu.  
Jadi Yogyakarta tidak bisa lepas dari Kota Gedhe, karena sangatlah penting peranannya dalam sejarah.
Sewaktu dalam proses mendirikan Kerajaan, diperlukan “babat alas” (pembersihan hutan), banyak sekali pohon nangka dan kelapa yang ditebang. 
Akibatnya terkumpul banyak sekali buah kelapa dan Gori (sebutan untuk nangka muda), dan dimasak besar besaran oleh para pekerja untuk mencukupi kebutuhan makan karena jumlah pekerja waktu itu sangatlah banyak.
Nangka muda ini dimasak dengan santan yang diambil dari buah kelapa, karena jumlah makanan yang dimasak sangatlah banyak, maka diperlukan alat dari kayu yang menyerupai dayung guna mengaduk agar tidak gosong.
Proses mengaduk dalam bahasa Jawa adalah Hangudheg, dan akhirnya makanan tradisional khas Jogja yang terbuat dari nangka muda ini disebut dengan nama Gudheg.    
Dalam penulisan gudeg yang sebenarnya harus menggunakan huruf "h" di belakang huruf "d" yaitu Gudheg. 
Karena dalam penulisan Bahasa Jawa penambahan huruf "h" bisa diartikan cukup berbeda. Contohnya wedi dengan wedhi, kalau wedi artinya takut sedang wedhi artinya pasir.


6 Gudeg Jogja Rekomendasi Banget


1. Gudeg Mbah Lindu
Gudeg Jogja yang satu ini merupakan gudeg yang tertua di Jogja, Mbah Lindu yang berusia lebih dari 90 Tahun mulai berjulan sejak usia 13 Tahun. Waktu itu masih dalam masa penjajahan, awalnya beliau berjualan berkeliling menjajakan Gudeg sebelum akhirnya berjualan menetap di Jl. Sosrowijayan.
Dulu tempat jualannya disebelah utara jalan, disamping studio foto Tik Sun. Namun, setelah studio foto tersebut berhenti beroperasi pada akhir Tahun 90an terus pindah di sebelah selatan jalan. Tepatnya di seberang jalan Gapura Gang 2 Sosrowijayan wetan, diantara Hotel Malioboro Inn dan Hotel Grage Ramayana.
Gudeg Mbah Lindu semakin terkenal setelah beliau masuk dalam acara Talk Show di Stasiun TV yang host nya dibawakan oleh Deddy Corbuzer.
Bahkan William Wongso pun pernah mencicipi dan terkagum dengan sosok seperti Mbah Lindu. 
Buktinya ada di Youtube dibawah ini!


2. Gudeg Yu Djum
Bagi pecinta wisata kuliner Jogja, nama Yu Djum sudah tidak asing lagi bagi mereka, karena Gudeg millik Yu Djum merupakan yang paling populer. 
Sejumlah artis seperti Dude Herlino, Raisa, IGun dan orang orang penting menjadi customernya.
Yu Djum, merintis jualan gudeg di daerah Karangasem mBarek, sebelah baratnya Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan sebelah utara UGM yang sekarang menjadi outlet pusat sekaligus office.
Gudeg Yu Djum sudah memiliki 7 cabang, 2 cabang paling ramai pengunjung berlokasi di Jl. Wijilan dan Jl. Kaliurang.

3. Gudeg Pawon
Gudeg yang didirikan pada Tahun 1958 oleh Bu Prapto beralamatkan di Jl. Janturan 36-38, Warungboto-Jogja dan beroperasional mulai jam 10 malam hingga dinihari.
Dinamakan dengan Gudeg Pawon karena warung gudeg disini disajikan langsung dari Pawon. Sedangkan yang dimaksud dengan pawon adalah dapur.

gudeg jogja
foto: good news from indonesia
Sungguh unik memang, dan sekiranya baru ada satu ini karena ada sebuah warung yang pembelinya langsung masuk di dapur. 
Jadi Anda dapat menikmati makanan tradisional khas Jogja ini fresh from the Pawon sekaligus menyaksikan proses masaknya. 

4. Gudeg Permata
Langsung saja ke alamatnya ya, Gudeg Permata terletak di Jl. Gajah Mada, sebelah utara pertigaan dan Timur jalan. 

Disebut dengan Gudeg Permata karena lokasinya terletak di belakang Gedung Bioskop Permata, namun kini bioskop tersebut sudah tidak beroperasional lagi, hanya tinggal gedungnya saja.
Arahnya dari Hotel Jambuluwuk keselatan, sebelum sampai di pertigaan sebelah kiri jalan sudah terlihat kerumunan orang, mereka adalah pelanggan dari gudeg permata.
Oh ya, ternyata gudeg permata ini sudah ada sejak Tahun 1951.

5. Gudeg Bromo
Nah Gudeg Jogja yang satu ini memiliki sebutan unik, yaitu Gudeg bu Thekluk. Istilah thekluk sebenarnya adalah Bahasa jawa yang dipergunakan untuk orang lagi terkantuk dan setengah tidur dalam posisi duduk dengan kepala yang mengangguk ngangguk.
Nah kepala yang mengangguk angguk ini dalam Bahasa Jawa disebut dengan theklak thekluk.
Mungkin, dulu sewaktu merintis, penjualnya duduk dan theklak thekluk sambil menunggu pelanggan datang.
Lokasi Gudeg Bromo ada di Jl. Gejayan dekat dengan Gang Bromo, Mrican. Jam operasionalnya buka mulai jam 11 malam sampai jam 5 pagi. 
Ehmmmm….. pantas saja ngantuk buka malam hari sampai pagi.
Yang membedakan antara Gudeg Bromo dengan yang lainnya adalah krecek yang digunakan biasanya terbuat dari kulit sapi, tapi untuk Gudeg Bu Thekluk menggunakan krecek yang terbuat dari kulit kerbau.

6. Gudeg Wijilan
Wijilan adalah nama kampung yang terletak di sebelah timurnya Keraton Yogyakarta dan di selatan Plengkung Tarunasura atau disebut dengan Plengkung Wijilan.
Nah, jalan raya dari Plengkung ke selatan dinamakan Jl. Wijilan, dimana berjajar warung warung Gudeg Jogja.
Jadi, yang dimaksud dengan Gudeg Wijilan merupakan pusatnya warung warung gudeg yang ada di Jl. Wijilan.
Pada Tahun 1942 adalah warung Bu Slamet yang merintis untuk berjualan Gudeg di jalan ini, kemudian selang beberapa Tahun muncul 2 lagi yaitu Gudeg Campur Sari dan Gudeg Bu Djuwariyah.
Tetapi pada Tahun 80an Gudeg Campur Sari tutup dan yang masih bertahan adalah Gudeg Bu Djuwariyah sampai sekarang yang dikenal dengan nama Yu Djum.
gudeg jogja
foto: tribun jogja

Gudeg Mbah Lindu rasanya klasik dan Fenomenal, kalau mau sekalian pengen lihat proses masaknya ya di Gudeg Pawon. Atau mau pengen lihat yang theklak thekluk di Gudeg Bromo?
Mau pilih yang mana? Keenam Gudeg Jogja tersebut semuanya enak dan memiliki citra rasa tersendiri, tinggal pilih sesuai dengan selera Anda.

Baca Juga:


logoblog

2 comments:

  1. Wah asyik ya, ada yang jualan gudeg sampe bisa ngeliat pawon-nya segala. Penting banget dicatat ini hihi

    ReplyDelete
  2. Okeh banget nih rekomendasinya!

    ReplyDelete

Ikuti Artikel Terbaru